HARTABUTA :
Sabtu, 18-4-2026 M.
Sumber :
WAG PPMH Gading Kasri Malang.
Sumber Aslinya :
Belum tahu.
IQTIBAS: SENI MEMINJAM REDAKSI WAHYU
Dalam sebuah video yang diunggah di FB (video ada di kolom komentar), gadis Iran yang cute dari Qum ini menjawab pertanyaan dengan gaya sastra yang diistilahkan Iqtibas.
Apa itu Iqtibas?
Ini adalah teknik dalam sastra Arab (balaghah) yang secara bahasa berarti "mengambil api" atau "menyulut cahaya". Dalam konteks literasi dan bahasa, iqtibas adalah gaya bahasa di mana seseorang menyisipkan potongan ayat Al-Qur'an atau Hadis ke dalam suatu kalimat, syi'ir (puisi), atau prosa tanpa menyebutkan bahwa itu adalah kutipan.
Sederhananya, ini adalah seni "meminjam" redaksi wahyu untuk memperindah atau memperkuat pesan dalam percakapan atau tulisan manusia.
Berbeda dengan kutipan biasa atau referensi ilmiah, iqtibas memiliki aturan main tersendiri. Pengguna gaya ini tidak perlu mengatakan "Sebagaimana firman Allah..." atau "Nabi bersabda...". Kutipan tersebut langsung melebur ke dalam kalimat.
Contoh simpelnya: Jika seseorang ingin menyemangati temannya yang sedang sulit dan memintanya sabar, ia bisa berkata:
"Tenang saja, badai pasti berlalu, karena "inna ma’al ‘usri yusran." Sing tenang bro, "inna Allah ma'as_shobirin" pokoke. Oke?"
Secara umum, iqtibas dibagi menjadi tiga berdasarkan tujuannya:
Iqtibas Al-Maqbul (Diterima): Digunakan untuk khutbah, nasihat, atau memuji seseorang/sesuatu yang baik.
Iqtibas Al-Mubah: Digunakan dalam tulisan sastra, surat-menyurat, atau candaan yang sopan dan tidak menghina agama.
Iqtibas Al-Mardud (Ditolak/Dilarang)* Menggunakan ayat suci untuk hal-hal yang buruk, maksiat, atau bahan olokan yang merendahkan kesucian ayat tersebut.
Iqtibas bukan sekadar pamer hafalan, melainkan cara agar ucapan kita memiliki bobot emosional dan estetika yang tinggi. Dalam tradisi masyarakat, menggunakan iqtibas menunjukkan bahwa pembicaranya memiliki kedalaman literasi agama sekaligus kemahiran dalam mengolah kata.
Dalam tradisi spiritual (tasawuf), iqtibas dibawa ke titik makna spiritual yang lebih dalam. Seperti dalam kisah terkenal ketika sufi agung Dzun Nun berbicara dengan seorang nenek yang selalu menjawab hanya dengan kalimat dari al-Quran.
Kisah ringkasnya:
Kisah ini adalah salah satu anekdot tasawuf yang sangat populer, menggambarkan tingkatan wara (kehati-hatian) dan kecintaan par excellence seseorang kepada Al-Qur'an.
Syahdan, saat sedang menempuh perjalanan, Dzun Nun melihat seorang wanita tua yang sendirian di tengah padang pasir. Karena merasa khawatir, beliau mencoba menyapa dan bertanya, namun setiap jawaban yang keluar dari mulut nenek tersebut adalah potongan ayat Al-Qur'an
Dzun Nun: "Assalamualaikum, nenek sedang apa di sini sendirian?"
Nenek: "Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan." (QS. Az-Zumar: 73).
(Maksudnya: Beliau sedang dalam perjalanan spiritual bersama rombongan yang tak kasat mata).
Dzun Nun: "Lalu di mana rombongan itu sekarang?"
Nenek:"Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat dan di belakang mereka sekat..." (QS. Yasin: 9).
(Maksudnya: Rombongannya sudah jauh di depan atau terhalang dari pandangan lahir karena goib).
Dzun Nun: "Nenek ingin ke mana sebenarnya?"
Nenek: "Dan bagi Allah subhanahu wa ta'ala, wajib atas manusia melaksanakan ibadah haji ke Baitullah..." (QS. Ali Imran: 97).
(Maksudnya: Beliau hendak menuju Makkah).
Dzun Nun: "Sudah berapa lama nenek di jalan?"
Nenek: "Tiga malam dalam keadaan sehat." (QS. Maryam: 10).
Dzun Nun: "Nenek lapar? Mau saya beri makanan?"
Nenek: "Sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187).
(Maksudnya: Beliau sedang berpuasa).
Dzun Nun beberapa waktu kemudian bertanya kepada orang yang mengenal nenek tersebut (dalam beberapa versi, beliau bertanya langsung dan dijawab dengan ayat lain) terungkaplah bahwa nenek tersebut sudah melakukan hal itu selama 40 tahun. Alasannya sederhana namun dalam: Beliau takut jika lidahnya mengucapkan kata-kata duniawi, ia akan tergelincir dalam dosa atau kesalahan (lagha), sehingga ia memilih hanya berbicara dengan firman Allah yang sudah pasti benar.
Nenek ini adalah contoh level tertinggi dalam penggunaan teknik iqtibas. Beliau tidak hanya menyisipkan ayat, tapi menjadikan ayat sebagai pengganti bahasa komunikasi harian.
Kisah ini sering dipakai para ulama untuk menjelaskan bahwa saking indahnya bahasa Al-Qur'an, ia bisa digunakan untuk menjelaskan segala situasi hidup, mulai dari urusan lapar sampai arah jalan.
و الحمد للّه ربّ العالمين
صلّى اللّه على محمّد






0 Comments:
Post a Comment